Sabtu, 29 Mei 2010
Buah dan Sayur Dapat Memicu Gangguan Mental
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, para ilmuwan di AS dan Kanada menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat residu pestisida yang tinggi dalam urin mereka, rentan mengalami ADHD.
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak. Gangguan ini berdampak pada masalah mental seperti cara berpikir, bertindak dan merasa. Anak-anak yang mengalaminya akan bermasalah dengan konsentrasi dan pemusatan pikiran. Seperti memicu anak hiperaktif.
Anak-anak dengan tingkat lebih tinggi dari rata-rata satu penanda pestisida memiliki risiko dua kali lipat terdiagnosis ADHD. “Saya pikir itu cukup signifikan, penggandaan adalah efek yang kuat, “kata Maryse F Bouchard, seorang peneliti di University of Montreal di Quebec dan penulis utama dari studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics.
Lantas, apa yang harus orangtua lakukan untuk menghindari ADHD pada anak? “Saya menganjurkan agar para orangtua lebih banyak memberikan anak-anak makanan organik,” ujar Bouchard. “Saya juga akan merekomendasikan mencuci buah dan sayuran sebanyak mungkin.”
Menurut kajian National Academy of Sciences pada 2008, 28 persen sampel blueberry beku, 25 persen sampel stroberi segar, dan 19 persen sampel seledri mengandung residu pestisida. Paparan pestisida kebanyakan berasal dari buah-buahan dan sayuran segar. (wm)
Sumber : Sekolah dolan
Didik Anak Sesuai Potensi
Sekilas memang tidak tampak perbedaan fisik antara Rian yang menderita gangguan autis dan anak-anak lain. Dengan pendampingan secara khusus di kelas, Rian akhirnya tidak kesulitan untuk beradaptasi di kelas.
Keberadaan Rian untuk bisa bergabung di kelas reguler itu setelah melalui tahapan kelas khusus dan kelas preklasikal. Tujuannya untuk menyiapkan bocah lelaki itu mampu bergabung dengan anak-anak lainnya.
SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya awalnya adalah sekolah reguler yang diperuntukkan bagi anak-anak normal. Namun, kebutuhan masyarakat sekitar yang ingin supaya anak berkebutuhan khsusus tak diasingkan di sekolah luar biasa membuat Kepala Sekolah SDN Klampis Ngasem I-246, Sukarlik, sejak 1989 coba membaurkan anak- anak normal dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan keyakinan bahwa setiap anak punya potensi jika dilayani sesuai kebutuhan dan kemampuannya, guru-guru di sekolah ini menerima anak berkebutuhan khusus, mulai dari yang menderita down syndrome, lambat belajar, autis, hiperaktif, tunarungu, tunanetra, dan cacat fisik. Mereka belajar dalam satu lingkungan dengan anak-anak reguler lainnya.
Anak-anak berkebutuhan khusus yang dilecehkan karena dianggap tidak punya harapan untuk bisa ?berprestasi? nyatanya mampu menunjukkan potensi dirinya.
?Kuncinya, anak-anak ini diidentifikasi kebutuhannya lalu ditangani sesuai kebutuhannya. Ketika mereka berada dalam lingkungan dengan anak-anak reguler, itu bisa memacu mereka untuk mau bersosialisasi. Anak-anak reguler juga belajar untuk memahami, menerima, dan membantu teman-teman mereka yang punya beragam kekhususan itu,? kata Dadang Bagoes Prihantono, koordinator sekolah inklusi di SDN Klampis Ngasem I-246 Surabaya.
Tetap konsisten
Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana untuk bisa memberikan layanan pendidikan yang baik buat anak-anak berkebutuhan khusus, nyatanya sekolah ini selama 20 tahun tetap bisa konsisten melayani setiap anak secara personal. Dengan pendidikan yang berfokus pada kondisi dan kebutuhan anak, perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus dalam bersosialisasi dan belajar semakin baik sehingga mereka tidak kesulitan saat belajar bersama di kelas reguler.
Dadang menjelaskan, layanan bertahap yang diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus itu lahir dari pengalaman para guru saat melayani dan mengevaluasi setiap anak. Sekolah ini menyediakan 44 guru khusus yang siap melayani 133 anak berkebutuhan khusus.
Sukarlik mengatakan, para guru ini umumnya guru honorer dari pendidikan luar biasa. Mereka dimotivasi untuk punya hati yang tulus melayani anak didik di tengah keterbatasan gaji yang mereka peroleh.
Di sekolah ini, anak-anak berkebutuhan khusus yang kondisinya masih berat untuk bersosialisasi dengan anak-anak reguler lainnya dimasukkan ke kelas khusus. Di sini satu guru melayani satu siswa atau satu guru dua siswa.
Jika dari hasil evaluasi menunjukkan anak sudah bisa bergabung dengan siswa lain, dia bisa dimasukkan ke kelas praklasikal. Di sini anak-anak berkebutuhan khusus dilayani dalam kelompok kecil sekitar 15 anak dengan 2-3 guru.
Lima bidang pelajaran
Anak-anak itu sudah belajar lima bidang pelajaran, yakni Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS. Untuk pelajaran olahraga dan keterampilan, anak-anak itu digabungkan dengan kelas reguler.
Layanan lain yang diberikan adalah kelas remedi. Anak-anak yang memiliki gangguan belajar dibantu secara khusus oleh guru untuk mengatasi kesulitan belajarnya sehingga tidak terhambat lagi saat belajar di kelas.
Selain itu, ada pendampingan. Anak berkebutuhan khusus yang sudah bisa bergabung di kelas reguler didampingi guru supaya dia tidak kesulitan beradaptasi. Yang terakhir, inklusi penuh di mana anak berkebutuhan khusus tadi siap dilepas di kelas tanpa pendampingan. Umumnya ini dijalani anak- anak yang menderita autis dan lambat belajar.
Menurut Sukarlik, sekolah inklusi itu bukan sekadar menghadirkan anak berkebutuhan khusus di sekolah. Yang penting justru bagaimana anak-anak ini mendapat layanan khusus sesuai kebutuhannya.
Anak berbakat
Layanan anak berkebutuhan khusus juga dibutuhkan anak- anak cerdas istimewa yang memiliki IQ 130 ke atas. Anak-anak ini justru sering diidentifikasi sebagai bermasalah karena ketidaktahuan gurunya.
Kepala SD Adik Irma Jakarta, Loly Widiaty, mengatakan, potensi kecerdasan istimewa anak dilihat dari pendekatan Renzulli terdiri atas IQ di atas rata-rata, kreativitas, dan task commitment. ?Anak-anak ini sering menawarkan ide-ide unik dan tidak biasa sehingga sering dianggap aneh,? kata Loly.
Untuk melayani anak-anak cerdas ini tidak mesti dengan guru yang cerdas. Yang dibutuhkan justru guru kreatif yang mampu merangsang anak untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya secara bebas.
Di Sekolah Adik Irma, anak- anak cerdas istimewa belajar di kelas khusus. ?Namun untuk pelajaran lain, seperti seni dan olah raga, mereka digabung dengan anak-anak reguler lainnya,? kata Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Amita M Haroen.
Dari penelitian yang dilakukan, diperkirakan terdapat sekitar 2,2 persen anak usia sekolah memiliki kualifikasi cerdas istimewa. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2006, ada 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya, terdapat sekitar 1.059.796 anak cerdas/berbakat istimewa di Indonesia.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan, harus ada kelenturan dalam kurikulum pendidikan di negara ini untuk bisa melayani kepentingan terbaik bagi anak. Sekolah jangan hanya mengejar kemampuan akademik dengan mengorbankan pengembangan karakter dan kreativitas setiap anak.
Ester Lince Napitupulu
Sumber : Kompas Cetak
Jumat, 28 Mei 2010
Deteksi Dini Bagi Anak Autisme
akibat kerusakan di otak yang menyebabkan keterlambatan yang luas dan berat pada aspek komunikasi, interaksi sosial dan perilaku, sebelum anak mencapai usia 3 tahun.. penyebab autisme secara pasti belum diketahui, untuk itu kenali dan cermati detekti dini anak Autisme dengan mengenal dan mengetahui gejala serta ciri-cirinya, berikut ini adalah gejala dan ciri ciri anak Autisme :
GEJALA
_ interaksi sosial
_ komunikasi
_ perilaku
_ emosional
_persepsi sensori
CIRI – CIRI
Kesulitan kontak sosial dan asyik dengan dirinya sendiri
_ komunikasi tidak jelas, ecolalia dan inkonsisten
_ gerakan kaku, monoton dan berulang
_ berprilaku aneh : sering berputar, gerakan tangan
_ gerakan cepat dan tak bertujuan
_ emosi labil dan tumpul
_ sulit konsentrasi pada tugas yang bukan minatnya
_ tertarik pada objek tertentu
_ terkadang terlalu sensitif
deteksi dini sangat diperlukan untuk menetapkan diagnosa yang tepat bagi anak yang mengalami keterlambatan perkembangan. tujuan dari deteksi dini ini adalah untuk memberikan informasi pada masyarakat, orang tua, pendidik ataupun tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap gangguan serta belajar mengetahui tanda-tanda bahwa anak autisme membutuhkan bantuan khusus. ada beberapa pendapat mengenai Autisme yaitu karena polusi/keracunan, resiko kelahiran, imunisasi, infeksi virus, interaksi keluarga, kelainan susunan saraf pusat, alergi, immunodefisiensi metabolisme.
alur pemeriksaan pada autisme yaitu, dimulai dengan Screening oleh orang tua, pendidik dan tenaga ahli, kemudian Assesment dan diagnosa oleh psikolog, dokter dan terapis. deteksi dini dapat kita lakukan dengan melihat gejala-gejala yang muncul pada anak autisme, dalam terapi terdiri dari : terapi Biomedis yang terdiri dari terapi Medikamentosa, diet Gluten Free-Casein free. terapi Detoksifikasi dan terapi Immunologi. sementara terapi fungsional dan sensori-motorik terdiri dari fisioterapi, terapi okupasional, terapi integrasi pendengaran dan metode dolan. sedangkan terapi pra akademik berupa terapi perilaku (ABA), terapi wicara, computerised pictografh for commupnication (COMPIC), picture exchage comunication system (PECS), treatment and educational of autistic and related communication handicapped children (TEACCH) dan the option method (son rise method). adapun tujuan dari terapi akademik pada anak autisme adalah untuk meningkatkan kemampuhan berkomunikasi, keterampilan dalam berinteraksi sosial, stabilitas emosi, keterampilan bantu diri dan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. peran psikolog dalam deteksi dini dan intervensi dini sangat penting bagi anak autis, yaitu :
- melakukan pemeriksaan dalam menentukan diagnosa yang tepat
- mempersiapkan keluarga, khususnya orang tua untuk dapat menerima anak apa adanya
- memberikan rekomendasi bagi anak untuk diterima di sekolah formal.
sedangkan peran psikolog dalam rekomendasi pendidikan adalah : melakukan pengetesan untuk mengetahui taraf kemampuhan anak, membuat surat rekomendasi bagi guru bila anak autisme telah dapat mengikuti pendidikan di sekolah, memberikan saran bagi guru berkaitan teknik pengajaran, guru pendamping dan PPI. dibawah ini merupakan tahap-tahap intervensi terpadu pada anak autisme :
terapi Biomedis
terapi Fungsional
terapi Sensori-Motorik
terapi pra-Akademik
Akademik/Skill
Sumber : Deteksi Dan Intervensi Dini Serta Pendidikan Bagi ANAK AUTISME oleh Forum Komunikasi Psikologi
Penyebab Autisme
Vaksin yang mengandung Thimerosal : Thimerosal adalah zat pengawet yang digunakan di berbagai vaksin. Karena banyaknya kritikan, kini sudah banyak vaksin yang tidak lagi menggunakan Thimerosal di negara maju. Namun, entah bagaimana halnya di negara berkembang …
Televisi : Semakin maju suatu negara, biasanya interaksi antara anak – orang tua semakin berkurang karena berbagai hal. Sebagai kompensasinya, seringkali TV digunakan sebagai penghibur anak. Ternyata ada kemungkinan bahwa TV bisa menjadi penyebab autisme pada anak, terutama yang menjadi jarang bersosialisasi karenanya.
Dampak TV tidak dapat dipungkiri memang sangat dahsyat, tidak hanya kepada perorangan, namun bahkan kepada masyarakat dan/atau negara. Contoh paling nyata adalah kasus pada negara terpencil Bhutan – begitu mereka mengizinkan TV di negara mereka, jumlah dan jenis kejahatan meningkat dengan drastis.
Bisa kita bayangkan sendiri apa dampaknya kepada anak-anak kita yang masih polos. Hiperaktif ? ADHD ? Autisme ? Sebuah penelitian akhirnya kini telah mengakui kemungkinan tersebut.
Genetik : Ini adalah dugaan awal dari penyebab autisme; autisme telah lama diketahui bisa diturunkan dari orang tua kepada anak-anaknya.
Namun tidak itu saja, juga ada kemungkinan variasi-variasi lainnya. Salah satu contohnya adalah bagaimana anak-anak yang lahir dari ayah yang berusia lanjut memiliki kans lebih besar untuk menderita autisme. (walaupun sang ayah normal / bukan autis)
Makanan : Pada tahun 1970-an, Dr. Feingold dan kolega-koleganya menyaksikan peningkatan kasus ADHD dalam skala yang sangat besar. Sebagai seseorang yang pernah hidup di era 20 / 30-an, dia masih ingat bagaimana ADHD nyaris tidak ada sama sekali di zaman tersebut.
Dr. Feingold kebetulan telah mulai mengobati beberapa kasus kelainan mental sejak tahun 1940 dengan memberlakukan diet khusus kepada pasiennya, dengan hasil yang jelas dan cenderung dalam waktu yang singkat.
Terapi diet tersebut kemudian dikenal dengan nama The Feingold Program.
Pada intinya, berbagai zat kimia yang ada di makanan modern (pengawet, pewarna, dll) dicurigai menjadi penyebab dari autisme pada beberapa kasus. Ketika zat-zat tersebut dihilangkan dari makanan para penderita autisme, banyak yang kemudian mengalami peningkatan situasi secara drastis.
Dr. Feingold membayar penemuannya ini dengan cukup mahal. Sekitar tahun 1970-an, beliau dikhianati oleh The Nutrition Foundation, dimana Coca cola, Kraft foods, dll adalah anggotanya. Beliau tiba-tiba diasingkan oleh AMA, dan ditolak untuk menjadi pembicara dimana-mana.
Syukurlah kemudian berbagai buku beliau bisa terbit, dan hari ini kita jadi bisa tahu berbagai temuan-temuannya seputar bahaya makanan modern.
Radiasi pada janin bayi : Sebuah riset dalam skala besar di Swedia menunjukkan bahwa bayi yang terkena gelombang Ultrasonic berlebihan akan cenderung menjadi kidal.
Dengan makin banyaknya radiasi di sekitar kita, ada kemungkinan radiasi juga berperan menyebabkan autisme. Tapi bagaimana menghindarinya, saya juga kurang tahu. Yang sudah jelas mudah untuk dihindari adalah USG – hindari jika tidak perlu.
Folic Acid : Zat ini biasa diberikan kepada wanita hamil untuk mencegah cacat fisik pada janin. Dan hasilnya memang cukup nyata, tingkat cacat pada janin turun sampai sebesar 30%. Namun di lain pihak, tingkat autisme jadi meningkat.
Pada saat ini penelitian masih terus berlanjut mengenai ini. Sementara ini, yang mungkin bisa dilakukan oleh para ibu hamil adalah tetap mengkonsumsi folic acid – namun tidak dalam dosis yang sangat besar (normalnya wanita hamil diberikan dosis folic acid 4x lipat dari dosis normal).
Atau yang lebih baik – perbanyak makan buah-buahan yang kaya dengan folic acid, karena alam bisa mencegah tanpa menyebabkan efek samping :
Nature is more precise; that’s why all man-made drugs have side effects
Sekolah lebih awal : Agak mengejutkan, namun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa menyekolahkan anak lebih awal (pre school) dapat memicu reaksi autisme.
Diperkirakan, bayi yang memiliki bakat autisme sebetulnya bisa sembuh / membaik dengan berada dalam lingkupan orang tuanya. Namun, karena justru dipindahkan ke lingkungan asing yang berbeda (sekolah playgroup / preschool), maka beberapa anak jadi mengalami shock, dan bakat autismenya menjadi muncul dengan sangat jelas.
Untuk menghindari ini, para orang tua perlu memiliki kemampuan untuk mendeteksi bakat autisme pada anaknya secara dini. Jika ternyata ada terdeteksi, maka mungkin masa preschool-nya perlu dibimbing secara khusus oleh orang tua sendiri. Hal ini agar ketika masuk masa kanak-kanak maka gejala autismenya sudah hampir lenyap; dan sang anak jadi bisa menikmati masa kecilnya di sekolah dengan bahagia.
Dan mungkin saja masih ada banyak lagi berbagai potensi penyebab autisme yang akan ditemukan di masa depan, sejalan dengan terus berkembangnya pengetahuan di bidang ini.
sumber: harry.sufehmi.com
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus 5
-
Child with communication disorder and deafness
Lebih popular dengan istilah tunarungu/wicara adalah mereka yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebahagian atau keseluruhan, akibat tidak berfungsinya indra pendengaran sebagaian/keseluruhan.
-
Child with partially seeing and legally blind
Anak tunagrahita dikategorikan sebagai anak-anak yang memiliki indra ke-enam. Hal ini mengacu kepada kemampuan inteligensi yang cukup baik, daya ingat yang kuat, kemampuan taktil yang tinggi berupa kemampuan merasakan objek melalui ujung jari-jemarinya sebagai pengganti indra penglihatannya. Anak tunagrahita mempresepsikan dunia dengan menggunakan indra sensoriknya, sehingga mereka membutuhkan latihan dalam waktu yang lama untuk menguasai dunia persepsi. Dalam melakukan interaksi sosial umumnya dilakukan dengan cara menyentuh dan mendengar objeknya, sehingga kurang menarik bagi lawan bicaranya.
-
Child with Giftednees and Special talent
Anak berbakat memiliki cirri-ciri :
-
Memiliki skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (general intellectual ability).
-
Mempunyai problem solving, kreatifitas tinggi dan produktif.
-
Memiliki keunggulan dibidang akademik/seni/sastra/verbal/etetika/sport/sosial.
-
Memiliki kemampuan intuisi yang kuat, terkadang mampu mempredisi sesuatu yang bersifat futuristik yang mungkin beberapa waktu (tahun/abad) baru diketahui orang normal.
-
Memiliki kemampuan kepemimpinan yang teliti dan visioner.
sumber : sekolah dolan
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus 4
-
Child with emotional or behavioral disorder
Anak dengan ganguan perilaku menyimpang/emosional menunjukan masalah perilaku yang dapat terlihat dari ; selalu gagal/tidak dapat menjalin hubungan pribadi yang intim, berprilaku tidak pada tempatnya (sering mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak logis), merasakan adanya depresi dan tidak bahagia (diri sendiri/bisa keluarga/lingkungan sosial) prestasi belajar menurun (memiliki masalah-masalah kesulitan belajar bukan disebabkan faktor intelektual, sensori atau kesehatan).
-
Child who have attention deficit disorder with hyperactive (ADHD)
ADHD terkadang lebih dikenal dengan istilah anak hiperaktif, oleh karena mereka selalu bergerak dari satu tempat ketempat yang lain. Tidak dapat duduk diam di satu tempat selama ± 5-10 menit untuk melakukan suatu kegiatan yang diberikan kepadanya. Rentang konsentrasinya sangat pendek, mudah bingung dan pikirannya selalu kacau, sering mengabaikan perintah atau arahan, sering tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugas di sekolah. Sering mengalami kesulitan mengeja atau menirukan ejaan huruf.
-
Down Syndrom
Anak down syndraom sangat mudah dikenali lewat bentuk wajahnya (seperti orang mongol). Tapi beberapa diantaranya tidak memperlihatkan bentuk muka down syndrom (layaknya anak normal). Mereka biasanya sangat pendiam, sering bermasalah dengan koordinasi otot-otot mulut tangan dan kaki sehingga sering mengalami terlambat berbicara dan berjalan. Kemampuan inteligensinya dibawah rata-rata normal menyebabkan mereka sulit mengikuti tugas-tugas perkembangan anak normal, baik dalam aspek akademis, emosi dan bersosialisasi. Tak jarang behavioralnya juga memperlihatkan perilaku yang tidak adaptif (sering mencari perhatian yang berlebihan, memperihatkan sikap keras kepala yang berlebihan (shut off/berlagak seperti patung) dan kekanak-kanakan.
sumber : sekolah dolan
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus 3
-
Pervasive Development Disorder Not Otherwie Specified (PDD-NOS)
Anak dengan gangguan PDD-NOS performanya hampir sama dengan anak Autisme hanya saja kualitas gangguannya lebih ringan dan terkadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar dan masih bisa diajak bercanda.
Anak-anak berkebutuhan khusus selain Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder :
-
Child with developmental Impairement
Yang banyak dikenal di Indonesia sebagai anak tuna grahita (mental retardation). Secara umum anak dengan gangguan retardasi mental memiliki inteligensi di bawah rata-rata normal, tidak mampu berprilaku adaptif sesuai tugas-tugas perkembangan usianya. Secara performa fisik tanpak sekilas anak retardasi mental seperti anak normal. Kemampuan berkomunikasinyapun tidak mengalami gangguan.hanyak saja anak retardasi mental sulit mengembangkan topik pembicaraan kearah yang lebih lanjut dan kompleks.
-
Child with specific learning disability
Anak berprestasi rendah yang lebih populer dengan istilah anak berkesulitan belajar. Mereka mempunyai kesulitan di bidang-bidang akademik, kognitif dan masalah-masalah emosi sosial. Oleh sebab itu kelainan-kelaian yang dialami lebih bersifat psikologis, yang berimbas pada gangguan kelancaran berbicara, berbahasa dan menulis. Anak-anak LD terlihat tidak berkemampuan sebagai pendengar yang baik, berfikir, berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, dan perhitungan yang bersifat matematika. Tes hasil belajar di sekolah menunjukan angka rendah. Yang tergolong learning disabilitis adalah anak dengan ganguan persepsi, cedera otak/cerebal palsy, minimal brain dysfunction, dyslexia dan developmental aphasia.
sumber : sekolah dolan
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus 2
-
Rett’s Disorder
Rett’s Disorder adalah jenis gangguan perkembangan yang masuk kategori ASD. Aspek perkembangan pada anak Rett’s Disorder mengalami kemuduran sejak menginjak usia 18 bulan yang ditandai hilangnya kemampuan bahasa bicara secara tiba-tiba. Koordinasi motorinya semakin memburuk dan dibarengi dengan kemunduran dalam kemampuan sosialnya. Rett’s Disorder hampir keseluruhan penderitanya adalah perempuan.
-
Childhood Disintegrative Disorder.
Yang membedakan anak Childhood Disintegrative Disorder (CCD) dengan anak autisme adalah bahwa umumnya anak CCD sempat berkembang secara normal sampai beberapa tahun termasuk kemampuan bahasa bicaranya. Biasanya anak-anak itu mengalami kemunduran setelah menginjak 2 tahun. Kemunduran kemampuan pada anak CDD bisa samapai pada kondisi anak dengan ganggaun autisme berat (low fuctioning autisme) dengan performa yang sama.
sumber : sekolah dolan
Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus adalah meraka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi istilah baru bagi masyarakat kota Malang pada umumnya. Padahal jika kita memahami lebih dalam lagi maksud dari istilah anak-anak berkebutuhan khusus, istilah ini tidaklah terlalu asing. Di Indonesia istilah yang terlebih dahulu populer untuk mengacu pada anak berkebutuhan khusus adalah berkaitan dengan istilah anak luar biasa. Pada profesi psikologi klinis/kedokteran istilah yang populer adalah anak-anak dengan handaya perkembangan.
Hingga saat ini anak-anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong kedalam Pervasive Developmental Disorder atau Autism Spectrum Disorder.
-
Autistic Disorder
Autisme adalah gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
-
Asperger Disorder
Secara umum performa anak Asperger Disorder hampir sama dengan anak autisme, yaitu memiliki gangguan pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial dan tingkah lakunya. Namun gangguan pada anak Asperger lebih ringan dibandingkan anak autisme dan sering disebut dengan istilah ”High-fuctioning autism”. Hal-hal yang paling membedakan antara anak Autisme dan Asperger adalah pada kemampuan bahasa bicaranya. Kemampuan bahasa bicara anak Asperger jauh lebih baik dibandingkan anak autisme. Intonasi bicara anak asperger cendrung monoton, ekspresi muka kurang hidup cendrung murung dan berbibicara hanya seputar pada minatnya saja. Bila anak autisme tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, anak asperger masih bisa dan memiliki kemauan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kecerdasan anak asperger biasanya ada pada great rata-rata keatas. Memiliki minat yang sangat tinggi pada buku terutama yang bersifat ingatan/memori pada satu kategori. Misalnya menghafal klasifikasi hewan/tumbuhan yang menggunakan nama-nama latin.
sumber : sekolah dolan
Selasa, 25 Mei 2010
Kepribadian seperti apa yang cenderung menjadi Pembohong?
Pribadi manipulatif
Bohong dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan interaksi sosial. Misalnya untuk mendapatkan teman atau mempengaruhi orang lain. Ini artinya bohong memang bisa dimanipulasi sesuai kehendak untuk menggapai tujuan tertentu. Orang-orang yang manipulatif adalah mereka yang bisa memanfaatkan bohong secara maksimal.
Ada tipe kepribadian yang orangnya sangat manipulatif, yakni tipe kepribadian machiavellianisme. Mereka biasanya sinis terhadap orang lain, menunjukkan sedikit hormat pada moralitas konvensional, dan secara terbuka mengakui bahwa mereka akan berbohong, menipu dan memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka ini orang yang menghalalkan segala cara dalam kehidupan. Meski begitu, mereka tidak mengeksploitasi orang yang mungkin bisa membalas dendam. Jadi mereka hanya mengeksploitasi orang yang tidak memiliki potensi membalas dendam. Pemilik kepribadian machiavellianisme mudah dikenali. Mereka biasanya ambisius dan mendominasi tetapi mereka juga terlihat santai, penuh talenta dan percaya diri.
Orang yang manipulatif lainnya adalah yang memiliki tipe kepribadian social androitness, yakni tipe pribadi yang cenderung memanipulasi hubungan dengan orang lain, tapi dalam konotasi yang tidak negatif.
Mereka yang manipulatif, biasanya menyadari manipulasi atau kebohongan yang dilakukan. Ketimbang orang lain, mereka lebih tahu kalau dirinya berbohong. Selain itu mereka juga lebih percaya diri akan keterampilan berbohong yang dimiliki. Mereka lebih yakin kalau orang lain berhasil dibohongi. Apa yang menarik dari pribadi manipulatif adalah disaat bersamaan dengan kebohongan yang dibuat dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka tetap mengontrol diri agar dikagumi dan disukai.
Pribadi yang sangat memperhatikan kesan di mata orang lain
Kita tahu bahwa bohong biasa digunakan dalam manajemen kesan. Misalnya agar seorang gadis terkesan pada Anda, maka Anda berbohong telah melakukan banyak hal hebat dalam hidup Anda. Nah, mereka yang sangat memperhatikan kesan mereka di mata orang lain adalah mereka yang cenderung untuk berbohong. Tidak lain ya untuk memanajemen kesan itu. Biasanya kebohongan yang dilakukan adalah yang berorientasi diri sendiri.
Sekurangnya ada dua tipe kepribadian yang sangat memperhatikan kesan di mata orang lain, yaitu tipe kepribadian kesadaran diri publik (public self-consciousness) dan tipe kepribadian mengarah ke orang lain (other directedness). Tipe kesadaran diri publik maupun tipe kepribadian mengarah pada orang lain sangat memperhatikan perhatian yang diberikan orang dan apa yang mereka pikirkan. Misalnya Anda ribut takut pendapat orang mengenai pakaian yang Anda kenakan akan negatif, sehingga berjam-jam mematut diri untuk memastikan orang akan menganggap Anda sempurna.
Mereka yang memiliki tipe kepribadian itu biasanya juga sangat memperhatikan orang lain, namun bukan karena sungguh-sungguh memperhatikan. Mereka melakukannya untuk meningkatkan kesan baik pada dirinya. Menolong bukan karena kasihan, tapi agar dinilai orang baik hati. Orang-orang yang suka pamer tergolong dalam tipe kepribadian ini. Di mana-mana mereka menyombongkan apa yang dimilikinya, tujuannya ya agar orang terkesan. Nah, mereka yang seperti ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk berbohong.
Pribadi yang memiliki percaya diri rendah
Mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah biasanya tidak cukup percaya diri untuk berbeda dari yang lain. Mereka tidak berani tampil beda. Nah, mereka yang rendah percaya dirinya juga tidak cukup berani untuk menampilkan diri seperti aslinya. Misalnya mereka ingin tampak lebih baik, lebih bijak, lebih bermoral, lebih bertalenta dan lainnya. Itu berarti melakukan kebohongan. Biasanya, orang dengan rasa percaya diri rendah selalu melakukan apa yang orang lain inginkan meskipun dirinya sendiri tidak setuju. Misalnya Ana tidak setuju untuk pergi ke pantai, tapi karena tidak percaya diri maka ia bilang setuju ketika ditanya pendapatnya.
Mereka yang memiliki kecemasan sosial yang tinggi juga mengalami hal demikian. Oleh karena cemas tidak diterima secara sosial maka melakukan banyak persetujuan dengan lingkungan sosial meskipun dirinya sendiri tidak menyepakatinya. Akibatnya banyak kebohongan dibuat.
Pribadi yang mudah bersosialisasi
Pribadi ekstrovert atau mereka yang mudah menjalin interaksi dengan orang lain disinyalir mudah berbohong. Hal ini bukan sekedar karena mereka memiliki interaksi sosial lebih banyak sehingga memiliki kesempatan melakukan kebohongan yang lebih besar. Selain itu adalah karena mereka terbiasa terlibat dalam cerita-cerita bohong, maka mereka pun lebih terbiasa untuk melakukan kebohongan. Karena terbiasa maka mereka lebih mudah dan lebih sukses dalam berbohong. Jadi, mereka yang kerap berkumpul dengan teman-temannya untuk begadang, arisan atau jalan-jalan dimungkinkan lebih banyak melakukan kebohongan. Setidaknya mereka akan lebih lihai dalam melakukannya ketimbang mereka yang hanya diam di rumah.
sumber : psikologi-online
Sabtu, 22 Mei 2010
Anak dan Tekhnologi
Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan Teknologi semakin lama semakin maju pesat, dan Orangtua sebaiknya memberikan pengarahan teknologi yang baik untuk anak-anak agar si anak tidak tertinggal informasi. Manfaat Teknologi bagi anak-anak adalah:
- Mempermudah dan membuat hidup lebih nyaman.
- Meningkatkan Kecerdasan.
- Mempercepat selesainya berbagai pekerjaan.
- Modernisasi kehidupan.
- Meningkatkan harga diri.
- Mempermudah komunikasi dengan orang lain.
Teknologi apa saja yang bisa digunakan anak?
- Teknologi dalam berkomunikasi, misalnya: penggunaan telpon, HP, email, dan lain sebagainya.
- Teknologi dalam pertukaran informasi, misalnya: penggunaan komputer, educational software, internet, dan lain sebagainya.
- Teknologi untuk hiburan dan hobi, misalnya: electronic / console games, TV, DVD, radio, kamera digital, dan lain sebagainya.
- Teknologi untuk kehidupan sehari-hari, misalnya: Blender, mesin cuci, microwave, dan lain sebagainya.
- Teknologi di sekolah, misalnya: belajar presentasi dengan komputer dan LCD projector.
- Penggunaan Teknologi bagi anak special needs, misalnya anak yang tuli mendapatkan bantuan hearing aid, anak yang low vision dan buta mendapatkan bantuan alat braille / alat bantu penglihatan.
sumber : info-sehat
Interaksi dengan Anak Buta Tuli
Sejak bayi, anak sudah mulai berusaha berkomunikasi. Orangtua harus belajar menafsirkan dan memberi tanggapan terhadap komunikasi yang dilakukan anak dalam upaya membentuk ikatan batin yang akan menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Anak juga dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai jenis interaksi yang mereka lakukan dengan orangtuanya. Hubungan yang dilandasi kepercayaan dan perhatian akan menjadi dasar bagi anak untuk menjelajahi dan menemukan suatu dunia yang senantiasa berkembang. Namun, bila anak tersebut adalah penyandang buta tuli, orangtuanya mungkin akan kesulitan memahami apa yang ingin disampaikan anaknya. Orangtua pun mungkin tidak yakin dengan caranya berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Deborah Gleasson, konsultan dan guru bidang Ketunanetraan dan Ketunarunguan dari Perkins School for the Blind Preschool Service, Utah, Amerika memberikan saran-saran praktis untuk memberikan isyarat-isyarat sensorik yang konsisten kepada anak buta tuli agar mereka bisa terdorong untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi dan komunikasi. Masing-masing anak berbeda Anak-anak dengan indera normal bisa belajar di tengah-tengah orang yang menggunakan bahasa, dan memiliki akses terhadap lingkungan yang aman, menarik, dan mengundang eksplorasi. Indera pendengaran dan indera pengliharan membantu anak mengorganisasikan informasi dari lingkungannya. “Namun anak penyandang buta tuli (deaf blind) tidak memiliki kesempatan untuk ‘belajar secara insidental’. Informasi yang mereka dapatkan melalui kontak dengan orang dan lingkungan, sering terpecah-pecah dan terdistorsi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa anak-anak normal melakukan antisipasi terhadap kejadian sehari-hari melalui penglihatan dan suara yang mereka tangkap. Mereka juga dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Sedangkan anak penyandang buta tuli kehilangan isyarat-isyarat tersebut karena keterbatasan penglihatan dan pendengarannya. Karena keterbatasan itu, mereka mungkin menganggap dunia sebagai ‘tidak dapat diprediksi, membingungkan, dan bahkan menakutkan’. “Anak-anak ini memerlukan bantuan orang lain untuk memahami dunia luar. Banyak hal yang terjadi yang mungkin menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi mereka,” tutur Deborah. Mereka mungkin tidak memahami atau tidak mengantisipasi apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin juga mereka mencoba berkomunikasi, namun isyarat yang digunakannya sedemikian tidak kentara sehingga sulit bagi orang lain untuk memahaminya. “Mereka juga mungkin menganggap bahwa memahami upaya keras orang tuanya untuk berkomunikasi tidaklah mudah,” tambahnya. Memperat interaksi dan komunikasi Salah satu cara yang paling penting yang dapat dilakukan orangtua untuk mengembangkan rasa atau ikatan batin dan menimbulkan rasa aman adalah dengan memeluk anak. Dengan begitu, anak akan belajar cara orangtuanya bergerak, dan mereka akan merasa terlindungi saat harus menghadapi berbagai peristiwa sehari-hari bersama orangtuanya. Setelah itu, mereka akan mulai mempelajari dunia yang lebih luas yang meliputi orang-orang yang memberi perhatian pada dirinya, berbagai gerakan yang menarik, sesuatu untuk disentuh, dirasakan, dan dicium, dan belajar membedakan suara dan berusaha memahami berbagai hal yang kasat mata. Beberapa cara di bawah ini bisa membantu orangtua anak penyandang buta tuli untuk membangun interaksi dan komunikasi yang lebih erat.
|
Kembangkan kecerdasan Anak Berkebutuhan Khusus
Mengindentifikasi emosi bukanlah hal yang mudah bagi anak usia dini terutama pada anak berkebutuhan khusus. Teri Mauro, pendidik anak berkebutuhan khusus dari University of California,Santa Barbara, dalam artikelnya Parenting Special Needs : Help Your Child Recognize Emotions, memaparkan anak sulit mengindentifikasikan emosinya sehingga tak jarang anak sulit memahami perasaan orang lain. Keadaan demikian membuat anak seringkali menjadi keliru dalam bersikap atau memberikan respon. Sehingga tak jarang anak sering dicap sebagai anak nakal. Dengan anak mengenal emosinya secara tak langsung dapat mengembangkan kemampuan sosialnya. Namun, kemampuan ini dapat berkembang jika anak tinggal dalam lingkungan yang sifatnya konsisten. Sehingga anak merasa aman (secure) dan nyaman mengekspresikan emosinya. Jangan ragu-ragu mengakui perilaku baiknya, berikan pujian jika anak berhasil menyelesaikan pekerjaannya, jadilah pendengar yang baik untuknya, dukung minat dan bakat anak, dan pertimbangkan perasaan anak. Salah satu cara membantu anak mengindentifikasi emosinya adalah dengan mendiskusikan suatu peristiwa sehari-hari. Tanyakan perasaan anak jika dia mengalami peristiwa tersebut. Misalnya, ?Menurut kamu bagaimana perasaan Rani jika mainannya diambil temannya?. Lalu bantu anak mengidentifikasikan perasaannya, ?Apakah Rani akan sedih dan menangis?? Tunjukkan pula dengan bahasa tubuh yang sesuai dengan emosi misalnya Anda membuat mimik wajah sedih kala mengatakan kata ?sedih?. Terdapat lima cara menyenangkan yang membantu anak belajar mengenal dan memahami ekspresi wajah saat mengeluarkan emosi: Permainan Ekspresi Gunakan Emotion Flashcard Membaca Buku Orangtua adalah guru terbaik bagi anak termasuk ketika mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Berikan contoh pada anak anak perilaku yang sesuai saat sedang marah atau sedih. Berikan pula beberapa pilihan lain bagaimana cara mengekspresikan kemarahan, kegembiraan atau kesedihan. Alhasil kelak anak berkebutuhan khusus mampu meregulasi emosinya dan memiliki hubungan sosial yang lebih baik. sumber : Inspired kids (mita Z) |
Permainan yang memotivasi Anak berkebutuhan Khusus
Apakah cara efektif dan menyenangkan untuk mengatasi perilaku hiperaktif anak Anda? Jawabannya dengan bermain. Hampir ssetiap anak menyukai kegiatan ini. Jangan melarang anak bermain, justru siasati dengan menjadikannya kegiatan belajar yang menyenangkan. Eileen Bailey, pendidik anak ADD/ADHD dari Mansfield University di Pennsylvania melalui artikelnya Motivational Games For Children with ADD/ADHD, memberikan beberapa inspirasi permainan yang bisa memotivasi anak dan berikan penghargaan jika anak berhasil menyelesaikannya. Namun, sebelum memperkenalkan permainan baru, lakukan persiapan terlebih dulu. Pilih satu kemampuan yang ingin Anda tingkatkan, misalnya kemampuan anak berpendapat, menyelesaikan tugas yang diberikan, kemampuan memberikan respon yang sesuai, atau berinteraksi dengan saudara kandungnya. sumber : inspired kids (mita Z) Setelah memilih, tuliskan secara spesifik dan konkret, misalnya jangan hanya menuliskan ?Jangan bicara dulu?, namun tuliskan respon yang bisa Anda terima dan yang kurang dapat diterima. Sebelum memulai permainan peragakan dulu bersama anak dan biarkan anak mengetahui ekspektasi dari permainannya. Sehingga anak bisa memberikan respon yang sesuai, namun berikan pemahaman dengan santai tanpa bersikap arogan atau kasar. Jadikan catatan tersebut sebagai peraturan permainan yang harus dipatuhi pemain. Permainan tentu kurang lengkap rasanya tanpa hadiah atau penghargaan untuk didapatkan di akhir permainan. Sebaiknya pilih hadiah yang bukan berupa uang, namun kegiatan yang mengasyikkan seperti menonton di bioskop, menyewa video game, makan siang di tempat favorit anak. Gunakan minat dan ketertarikan anak dalam memilih hadiah yang tepat. Berikut permainan seru yang bisa Anda mainkan bersama si buah hati,
|
Tips sukses mendidik anak ADHD di rumah
Homeschooling mungkin akan menjadi pilihan untuk si kecil berkebutuhan khusus. Terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang sulit mengikuti program sekolah umum, atau yang memang membutuhkan belajar secara privat atau disebut juga one-on-one learning. Menurut Janie Bowman dalam bukunya Think Fast! The ADD Experience dan juga praktisi homeschooling, sebenarnya metode ini tidak asing bagi orangtua, karena saat anak berusia balita orangtualah yang menjadi gurunya di rumah. Meskipun demikian, tuntutan pada kemampuan anak semakin besar seiring dengan usia perkembangannya. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:
Don't Do "School at Home"
Sebaiknya Anda pikirkan kembali ide membuat metode homeschooling menyerupai kegiatan belajar mengajar di sekolah. Seperti, mengikuti struktur pelajaran, jam belajar, kurikulum dan lingkungan sekolah. Yang paling penting adalah mengoptimalkan keinginan natural anak untuk belajar. Selain itu, lakukan kegiatan belajar dengan santai serta dukung dan kembangkan minat anak.
Buat Prioritas
Setiap kemampuan yang dimiliki anak akan menjadi modal di masa depannya. Namun, Anda perlu fokus dulu pada kemampuan dasar anak seperti membaca, menulis, matematika dan kecintaan belajar atau bereksplorasi. Jangan hanya terpusat pada keinginan anak. Jika Anda kesulitan mengajari anak kemampuan dasar tersebut, Anda bisa mencari bantuan psikolog. Mungkin Anda memerlukan metode yang berbeda.
Tentukan Waktu yang Tepat
Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki mood pada waktu tertentu yang mempengaruhi konsentrasinya. Jika sedang frustasi, anak tidak bisa belajar secara optimal sehingga terkadang terlihat anak menolak atau membangkang. Pahami situasi, bukan berarti anak sengaja bertindak kasar, namun mereka hanya takut lupa dengan apa yang dipelajari. Kendati demikian, Anda bisa menyiasatinya dengan memberikan waktu istirahat atau bercanda di sela-sela kegiatan belajar. Buat jadwal kegiatan perminggu atau perbulan. Diskusi dengan anak mengenai waktu belajar yang ideal.
Manfaatkan Hiperfokus Anak
Biasanya anak berkebutuhan khusus seringkali tidak memperhatikan waktu ketika sedang tertarik pada sesuatu (hyperfocus). Jika menurut Anda bermanfaat, biarkan seperti itu namun pastikan anak cukup tidur dan nutrisi. Anda bisa menggunakan kemampuan anak bereksplorasi dengan mengenalkan beragam konsep, misalnya membaca, matematika, kemampuan sosial, sains, geografi dan sebagainya. Misalnya, anak yang didiagnosa sindrom Asperger khususnya laki-laki sangat tertarik dengan komputer. Segera minta bantuan psikolog atau terapis jika kebiasaan ini semakin mengganggu, misalnya anak menjadi lupa waktu dan tidak mau belajar hal lain.
Keunggulan dari homeschooling untuk anak ADHD ialah anak mendapatkan metode pengajaran yang sesuai dengan kepribadiannya. Hal ini dikarenakan orangtualah yang menjadi guru anak, karena meski bagaimanapun orangtualah yang paling tahu kebutuhan si kecil. Perlu diingat meski anak belajar di rumah bukan berarti anak diperlakukan sebagai siswa.
sumber : inspired kids (mita Z)
Menemukan Keberhasilan Anak berkebutuhan Khusus
Helen Adams Keller, lahir pada 27 Juni 1880 di suatu desa kecil di Nothwest Alabama, AS. Ia dilahirkan secara normal dengan penglihatan dan pendengaran baik. Pada usia 19 bulan tiba-tiba Hellen jatuh sakit, penyakitnya yang diduga meningitis (namun sampai saat ini penyakit persisnya masih misterius) itu, menyebabkannya kehilangan fungsi penglihatan dan pendengaran. Ia menjadi seorang anak buta, tuli, tumbuh sebagai anak yang sulit, dan temper tantrum. Di bawah penanganan tepat dari gurunya, Anne Sulivan, yang juga memiliki cacat penglihatan jarak dekat, kekurangan-kekurangan Keller dapat teratasi. Ia dengan sangat mudah menangkap pelajaran yang diberikan, dan perkembangan kemajuan Keller yang sangat luar biasa menjadi buah bibir masyarakat. Ia dikenal sebagai penemu huruf Braille, metode membaca untuk orang buta. Hellen Keller adalah satu contoh konkrit anak cacat yang berbakat (handicapped gifted). Apa yang dimaksud dengan handicapped gifted?
Bagaimana mengenali handicapped gifted?
Pengukuran intelektual nonverbal dan tes modifikasi perilaku perlu dilakukan agar orangtua ataupun guru dapat sedini mungkin menemukan anak yang cacat, namun tergolong berbakat. Identifikasi memang tidak mudah, karena biasanya yang akan langsung terlihat menonjol adalah kecacatan anak. Namun, bagi guru yang memiliki kemampuan memahami karakteristik anak berbakat, akan dapat dengan mudah mengenali siswa yang tergolong anak berbakat. Untuk memastikan potensi keberbakatan yang dimiliki siswa tidak ada cara terbaik selain pemeriksaan psikologik. Hasil pengamatan orangtua, guru maupun orang sekitarnya akan diperkuat dugaannya oleh psikolog. Hal ini disebabkan karena psikolog memiliki metode dan instrumen untuk menggali potensi kecerdasan dan bakat individu. Sekolah mutu baik senantiasa memiliki seorang psikolog sekolah (school psychologist). Apa yang dilakukan sekolah jika ternyata anak tergolong sebagai anak berbakat? Tidak ada cara terbaik selain memberikan anak Individualized Education Program (IEP) yang akan membawa anak kepada pendidikan khusus sesuai kebutuhan dirinya. Program pendidikan individual dibuat oleh tim yang mendapat masukan-masukan dari guru maupun orangtua berdasarkan kekuatan-keunggulan (strengths) yang dimiliki anak. Tim yang terdiri dari mereka yang memiliki latar belakang pendidikan khusus, dan guru anak berbakat akan bekerjasama membuat perencanaan dan pelaksanaan IEP tersebut. Anak-anak dengan kecacatan penglihatan, pendengaran, ataupun fisik, namun sekaligus tergolong anak berbakat dapat menggunakan kekuatan intelektualnya untuk mempelajari keterampilan-keterampilan lain yang dapat mengkompensasi kekurangan dirinya. Anak berbakat dengan kesulitan belajar (learning disabilities/LD) atau gangguan perilaku (behavior disorders) yang memiliki kecerdasan tinggi dibantu untuk dapat memecahkan masalah atau strategi metakognitif dalam tugas-tugas akademik dan tugas sosial, Sehingga mereka dapat sukses di sekolah. Anak dengan kategori kesulitan belajar (LD) dapat digolongkan dalam handicapped gifted. Biasanya penyebabnya tidak diketahui, dan penyembuhannya sampai saat ini masih terus dikembangkan agar anak dapat dengan sukses mengikuti pendidikan di sekolah. Secara umum biasanya pendekatan pendidikan bagi anak berbakat yang tergolong LD ini melalui analisis tugas-tugas akademik untuk melihat keunggulan dan kelemahannya. Siswa banyak membutuhkan keterampilan mengorganisasi, seperti manajemen waktu, mencatat, merekam pelajaran, sekuens topik-topik pelajaran, keterampilan dasar menulis, dan lain sebagainya. Program Remedial Akhirnya, guru anak berbakat dapat menyediakan layanan pendidikan pengayaan maupun percepatan belajar untuk membuat belajar lebih menantang dan menarik anak. Intinya dalam pendidikan anak cacat berbakat, guru memusatkan perhatian pada keunggulan diri anak dan memberikan layanan yang sesuai sebagai hadiah atas kemampuannya yang tinggi. DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi, Kepala Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia |
toilet training
Banyak ibu berharap toilet training (akhirnya!) berarti benar-benar bebas dari popok. Tapi, cara mengajari anak laki-laki ternyata beda, lho, dengan anak perempuan. Seperti siang dan malam. Memang, kedua jenis kelamin ini memulainya dengan duduk. Haya saja, banyak juga anak laki-laki yang memilih melakukannya sambil berdiri dan langsung “tembak”. Anak perempuan memang belajar lebih cepat, tapi ia masih harus belajar cara duduk yang benar plus membersihkan alat kelaminnya dengan bersih.
Inilah cara gampang melatih anak Anda baik perempuan maupun laki-laki:
Perempuan
Perlengkapan
Gunakan toilet khusus anak-anak. Otot-otot panggulnya akan rileks, karena kaki si kecil tetap menginjak lantai. Kalaupun memakai toilet orang dewasa, berikan bangku kecil sebagai pijakan.
Posisi
Minimalkan cipratan pipis atau pup dengan cara menempatkan bokong dan vagina benar-benar di atas toilet. Minta si kecil untuk duduk dengan kedua lutut terbuka lebar. Sepele memang, tapi ini akan membantu otot-otot panggulnya tetap rileks.
Taktik jitu
Ajarkan si kecil untuk membersihkan (atau menepuk-nepuk) alat kelaminnya dari arah depan ke arah belakang. Biarkan dia melihat Anda melakukannya dulu. Buat dia tetap asyik dan betah duduk berlama-lama dengan menaruh buku, sticker, atau memutar lagu favoritnya di dekat toilet.
Laki-laki
Perlengkapan
Biarkan dia menggunakan toilet khusus untuk pipis. Ini kalau dia tidak siap berdiri dan “menembak”. Kalau pup, bisa saja ia tetap memakai toilet itu atau Anda tambahkan saja dudukan pada toilet Anda (plus bangku kecil untuk pijakan kakinya).
Posisi
Minta si kecil endorong” penisnya lurus ke bawah sebelum dia duduk di atas toilet. Dengan begitu, cipratan pipisnya tidak kemana-mana. Bila ia memilih berdiri, pastikan posisinya sudah pas. Kedua kaki terbuka lebar, dan ia tepat di depan toilet.
Taktik jitu
Biarkan dia melihat ayahnya, atau tunjukkan bagaimana cara “mengarahkan” penisnya. Untuk membuktikan “tembakannya” sudah oke atau belum, ada beberapa cara mengetesnya. Jatuhkan beberapa Cheerioatau cracker ke dalam toilet, lalu minta dia “menembaknya” dengan pipis. Beri dia sticker yang lucu begitu dia berhasil mengenainya. Jika ia pup, jangan lupa siapkan buku atau lagu-lagu di dekatnya. agar betah :)sumber : parenting indonesia
vitamin untuk anak prasekolah
Bila si kecil termasuk pemilih, misalnya makanan yang ia sukai hanya cheerios, dan tidak banyak makanan lain, memberi multivitamin dengan zat besi adalah ide brilian. Anak yang vegetarian biasanya kekurangan zat besi, vitamin B dan seng. Jadi, mereka juga kandidat untuk mendapat multivitamin dengan zat besi.
Bila Anda memberi si kecil vitamin, bacalah keterangan pada kemasan. Umumnya, kandungan vitamin untuk anak-anak diatur sesuai usia. Biasanya tidak untuk anak di bawah usia 2 tahun. Dosisnya pun bervariasi sesuai merek pilihan. Dosis bisa hanya setengah tablet untuk merek tertentu, dan satu tablet untuk merek lain.
Vitamin berbentuk cair biasanya tersedia untuk anak di bawah 2 tahun. Cari multivitamin dengan kalsium, karena banyak anak masa kini yang tidak tercukupi kebutuhan mineralnya dalam makanan. Biasakan untuk selalu membaca label karena jumlah vitamin dan mineral bisa bervariasi antara satu merek dengan merek lain.
Bayi dan batita yang banyak menyusu (ini berarti sebagian besar susu yang diminum adalah ASI), dan anak lebih besar yang minum susu kurang dari 475 cc setiap hari harus mengonsumsi vitamin D. Beberapa anak mungkin juga perlu fluoride setelah usia 6 bulan, tergantung pada konsumsi minumannya. Konsultasikan dengan dokter untuk mendapat saran seputar diet anak yang paling pas.
Catatan kecil tentang vitamin yang harus dicermati: Ada beberapa vitamin yang rasanya semanis permen. Jauhkan vitamin seperti ini dari jangkauan anak. Mengonsumsinya dalam jumlah berlebihan bisa berbahaya!
sumber : parenting indonesia
Sabtu, 15 Mei 2010
mengenal murid berkebutuhan khusus 2
-
GANGUAN KUALITATIF YANG SERING DIALAMI.
Gangguan pada system sensoris |
Gangguan proses perkembangan struktur otak dan system sensori menyebabkan individu autistik diserang oleh ribuan stimulasi sensoris melalui alat indranya tanpa dapat mengintegrasikan input sensori tersebut menjadi sebuah informasi yang dapat dipersepsi diorganisasikan dan kemudian direspon secara tepat sesuai situasi.
Proses integrasi sensori
Input sensori → Registrasi → Orientasi → Interprestasi → Organisasi → Eksekusi
Registrasi » Menyadari datangnya suatu input
Orientasi » Otak memutuskan untuk mengabaikan atau memperhatikan input yang datang
Interprestasi » Input dimaknai/diartikan sesuai pengalaman/memori/emosi yg terecording di otak
Organisasi » Memutuskan melakukan tindakan/respon yang tepat
Eksekusi » Respon berupa perilaku motorik/emosi/kognitif/bahasa
Proses intergrasi sesnsori ini berlangsung hanya beberapa sepersekian detik saja dalam sistem sensori dan otak manusia. Hanya saja pada individu autistik selama proses integrasi sensori banyak terjadi distorsi informasi sehingga pada saat melakukan eksekusi berupa respon perilaku motorik sering kali tidak relefan dengan input yang diterima. Misalnya anak diberi instrusi pegang hidung, anak dapat melakukanya dengan tepat tapi pada saat diminta untuk melabel hidung anak malah mengatakan mata.
Ada tiga bentuk ganguan sistem sensoris yang dialami individu Autistik :
-
Gangguan modulasi sensoris/regulasi, Gangguan modulasi sensoris dapat dilihat dari regulasi perasaan atau emosi. bentuknya bisa berupa perilaku tertawa-tawa sendiri yang berlebihan, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.
-
Gangguan diskriminasi sensori, gangguan diskriminasi sensori dapat dilihat dari perilaku anak yang sulit memilah input sensori pendengaran mana yang harus dia dengar pada saat berada diruang kelas, suara guru atau suara gorden dijendela yang ditiup angain. hal ini dapat terjadi karena :
-
Hipersensitif pada indra pendengaran sehingga menghindari suara/suara tertentu karena dipersepsikan sebagai suara yang amat bising dan memekakan telinga. Uniknya terkadang suara tertentu memberikan efek senang dan nyaman sehingga cendrung ingin didengar secara berulang-ulang.
-
Hipersensitif pada indra pendengaran kadangkala diikuti hiposensitif pada indra taktil
-
Kesulitan menggunakan panca indra secara bersamaan dan efektif untuk menangkap input sensorik sehingga informasi yang diterima tidak lengkap dan terpecah-pecah. Akibatnya individu autistic sering salah mempersepsikan input sensorik.
-
Gangguan motorik berbasis sensorik, Gangguan dalam motorik berbasis sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.
cara atau usaha individu autistik beradaptasi terhadap sensori integrative disorder :
-
Menarik diri ke dalam dunia internal menutup system pengindraan (shut off) dengan melakukan gerakan stereotype. Gerakan repetitive ini memberikan sensasi yang menyenangkan/efek tenang
-
Keterbatasan diskriminasi sensori menyebabkan individu autistic mempresepsikan dunia luar sebagai tempat yang kacau dan menakutkan. Individu autistic membuat sense of control dengan cara yang unik yaitu membuat keteraturan. Membuat aturan atau aktifitas ritual
-
Mengembangkan perilaku fiksasi atau obsesif. Minat yang besar terhadap suatu benda atau topic tertentu. Dengan melakukannya individu autistic memperoleh kegembiraan yang besar
GANGGUAN METABOLISME |
-
MULTIPLE FOOD ALLERGY
-
GANGGUAN PENCERNAAN
-
PERADANGAN DINDING USUS
-
GANGGUAN KESEIMBANGAN MINERAL TUBUH (adanya zat exomorpphin dalam otak yang bereaksi berlebihan terhadap gula, penyedap rasa, pewarna makanan, dll) yang berdapak pada overload behavior.
sumber : sekolah dolan
mengenal murid berkebutuhan khusus
Anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak pada umumnya, sehingga diperlukan sebuah lembaga pendidikan khusus yang mengembangkan motode pengajaran khusus secara intensif yang terprogram sehingga mampu menjembatani keterbatasan ABK tersebut. Lahirnya home-based therapi Sekolah Dolan adalah salah satu jawaban model pendidikan khusus yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus.
Salah satu yang saat ini banyak dibicarakan adalah Autis. Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan pada sistem sensoris.
Walaupun secara umum individu autistik memiliki kesamaan, namun jika diamati lebih mendalam lagi masing-masing individu memiliki keunikan tersendiri. Secara umum kemiripan individu autistik meliputi :
-
Adanya gangguan perilaku, Gangguan perilaku tampak dari perilaku anak yang senang merapikan atau menempatkan barang tertentu pada suatu. Anak memperlihatkan perilaku hiperaktif misalnya bila masuk dalam suatu ruangan yang baru pertama kali ia datangi, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah, tampak seolah-olah memeriksa semua sisi ruangan apakah ada sesuatu yang membahayakan atau tidak. Tak jarang mereka mengulang- ulang suatu gerakan tertentu (misalnya, menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Beberapa diantaranya ada yang dengan sengaja sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala ke dinding. Kadang dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Adakalanya mereka marah tanpa alasan yang masuk akal atau mungkin sesuatu yang sepele bagi orang dewasa yang normal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang yang menarik perhatian mereka (terobsesi). Secara emosi tak jarang mereka labil (dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri). Mengalami gangguan pola tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.
-
Menarik diri dari lingkungan/social, Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Menghindari kontak mata.
Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak dapat berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh.
-
Menjalani Rutinitas secara kaku (misalnya pada saat melakukan aktifitas bermain ), Gangguan dalam menjalani rutinitas keseharian secara kaku diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya setiap bertemu kotak sabun, mereka menderetkan kotak sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar roda mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.
-
Kesulitan berbicara/berkomunikasi, Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan imik datar. Penting diperhatikan bahwa ketidak mampuan individu autistik dalam berbicara/berkomunikasi tidak selalu menunjukkan bahwa individu autistik tersebut tidak menguasai/mengerti bahasa. Pada individu autistik non-verbal kemampuan mereka untuk memahami bahasa melebihi kemampuan mereka dalam berbicara.
Keunikan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki individu autistic lain :
-
Photographic memory : Kemampuan mengingat/menghapal sesuatu tulisan/peta/susunan angka/kalender secara luarbiasa
-
Minat/perilaku obsesif terhadap hal yang berbeda
-
Kemampuan keterampilan fisik yang luarbiasa (memanjat/berenang/memainkan alat music/ keterampilan mekanika/elektronika/dll)
-
Kemampuan inteligensi spasial : Menggambar dan melukis benda persis sama dengan aslinya, mampu memasang puzzle yang rumit yang membutuhkan diskriminasi visual yang tinggi
-
Kemampuan inteligensi linguistik : Menguasai berbagaimacam bahasa
-
Kemampuan inteligensi naturalis : Dapat menjalin hubungan yang dekat dengan hewan, memahami dunia hewan dan menghapal berbagai informasi tentang hewan
-
Kemampuan inteligensi matematika : Ahli dalam menggunakan atau membuat program computer, mampu mengerjakan berbagai soal-soal matematika secara unik dan luar biasa
sumber : sekolah dolan
mengetahui identifikasi anak special need
Anak dengan kebutuhan khusus atau special needs adalah anak yang mengalami keterbatasan atau ketidakmampuan secara fisik, psikis, atau sosial seperti autisme, down syndrome, learning disability dan sebagainya. Sehingga interaksi anak dengan lingkungan terbatas atau bahkan tidak mampu. Masing-masing anak mempunyai ciri-ciri mental,fisik, sosial, dan komunikasi yang berbeda dengan rata-rata anak yang lain. Hal penting yang perlu dilakukan oran tua adalah melakukan identifikasi sejak dini agar dapat dilakukan penanganan yang tepat sejak anak usia dini.
Fanny Erla Zuhana, Psikolog yang juga Manager Bougenville Therapy dan Child Development Center, menjelaskan bahwa anak dengan kebutuhan khusus ini memerlukan penanganan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan permasalahan yang dihadapi anak. “Dalam pendidikan pun, kurikulum yang disusun harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak,” ungkap Erla. Kurikulum pendidikan di sekolah khusus merupakan gabungan antara kurikulim dari Dinas Pendidikan yang digabung dengan kurikulum pendidikan khusus. “Untuk akademiknya, kami menggunakan kurikulum dari Diknas,” ujar Rika Andadari, Kepala Sekolah Special Needs School Bougenville. Kurikulum yang diterapkan lebih diarahkan ke pengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak dan kemampuan yang dibutuhkan anak seperti kemampuan bersosialisasi dan berkomunikasi serta kemandirian anak.
Hal senada juga diakui oleh Tuharto. Menurutnya, kurikulum sekolah khusus yang di terapkan di Spectrum mengkombinasikan kurikulum Diknas dan kurikulum khusus. “Masing-masing anak mempunyai lembar kerja atau kegiatan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya sendiri,”. Tapi diharapkan semua anak dapat mencapai apa yang disebut kurikulum reguler atau Class Education Program (CEP). “Metode pendidikan didasari oleh kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki setiap anak, sehingga perlu rencana program yang berbeda bagi setiap anak,” tambah Tuharto. Metode yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan dan pemahaman terhadap anak.
Pada umumnya sebelum masuk ke sekolah khusus, anak akan menjalani assessment terlebih dahulu. Tujuannya,untuk mempersiapkan anak dengan kebutuhan khusus untuk masuk sekolah baik dari sisi kemandirian, emosi maupun akademis. Dan diharapkan anak akan lebih mandiri dan mudah untuk menerima pelajaran di kelas serta kemampuan sosialisasinya akan meningkat. Anak dengan kebutuhan khusus biasanya mempunyai kelebihan di bidang tertentu misalnya melukis,menari,memasak,bermain gamelan/musik dan lain-lain. Di sekolah khusus, kemampuan seperti ini akan lebih digali, diarahkan dan dikembangkan. Tersedianya kegiatan ekstrakurikuler diharapkan akan dapat mengakomodasi kebutuhan dan bakat yang dimiliki anak.
sumber : kematian.biz
ajarkan kemandirian anak special need
Dikatakannya, ada bermacam terapi yang diberikan pada anak-anak special need. Di antaranya terapi akademik, motorik, bantu diri, dan audiotory. Dan, semua terapi itu diberikan secara terpadu pada anak-anak.Anak special need juga membutuhkan pendekatan applied behavior analysis (ABA) agar berbagai perilaku pengganggu seperti menyakiti diri sendiri dapat segera dikurangi,’’katanya.
Dia menjelaskan, terapi akademik meliputi pengenalan warna, bentuk, huruf, tulis, menggambar dan mengenali angka. Terapi ini diberikan pada anak dengan pendekatan ABA, seperti pemberian hadiah saat anak-anak dapat menyelesaikan tugasnya.Dengan cara ini, keingginan mereka untuk menyelesaikan tugas lebih meningkat,terangnya.
Sedangkan terapi motorik yang diberikan yaitu materi cara menggunting, menjahit, bermain puzle, meronce dan meniti papan. Dikatakannya, seluruh aktivitas ini dapat merangsang saraf motorik anak untuk lebih kuat.
Meniti papan misalnya, terapi ini dapt menambah daya konsentrasi pada anak special need.Ketika meniti, pandangan anak lebih tertuju pada papan yang mereka titi. Biasanya terapi ini diberikan pada anak autis, terangnya.
Terapi ketiga berupa melatih kemandirian anak, yakni bantu diri. Anak special need diajarkan melakukan aktivitas sehari-hari, yaitu menggunkan pakaian sendiri, menyapu, mencuci piring dan kegiatan lainya. Terapi audiotory biasanya diberikan pada anak terlambat bicara, biasanya mereka diterapi dengan cara mendengarkan musik lewat headphone,katanya.
Menurut Nunik, terapi bentuk oral, juga harus diberikan pada anak-anak special need. Terapi ini bisa berupa menirukan kata-kata, kalimat (imitasi suara), cara meminta dengan baik, hingga menggosok gigi dan lidahnya.Kebanyakan anak special need mengalami kendala bahasa, jadi dengan terapi oral mereka akan lebih terangsang untuk berbicara,ujarnya.
Agar terapi yang diberikan lebih cepat diterima, pemberian brushing pada anak-anak disarankan. Alat yang menyerupai sikat cucian dengan bulu yang lembut ini digosokkan di seluruh tangan anak, tapi tetap dengan aturan sendiri.Pemberian brushing pada anak-anak akan membantu membenahi sensori anak. Materi terapi ini diberikan hingga tiga jam per hari. Namun setiap jamnya dimasuki materi sosilisasi.
sumber : radar madiun
ketika anak berbohong
Anda betul-betul penasaran dan berusaha membuatnya mengaku. Tapi semakin Anda berusaha, ia justru semakin teguh mempertahankan kebohongannya. Nah, jangan-jangan itu bukan karena ia pembohong, tapi cara Anda merespon yang kurang tepat. Anda bisa menyimak contoh berikut.
Temannya punya anak anjing yang sangat lucu. Si kecil tahu-tahu bilang, “Aku juga punya anak anjing lucu banget di rumah.” Padahal, ia sama sekali tak punya binatang peliharaan. Si kecil melakukan ini mungkin karena betul-betul ingin anak anjing juga, sehingga ia berfantasi dan lupa realita sebenarnya, atau ia ingin dianggap hebat oleh temannya. Jangan katakan, “Sayang, kamu kan nggak punya anak anjing?” Tapi katakan saja, “Sepertinya kamu betul-betul ingin anak anjing seperti punya Diana, ya? Coba cerita deh, anak anjing seperti apa yang kamu inginkan?” Jangan terlalu lama meneruskan pembicaraan tentang anak anjing, usahakan ganti topik segera.
Si kecil minta ijin untuk menggambar di buku gambarnya, namun kemudian Anda menemukan beberapa coretan baru di dinding. Begitu ketahuan, ia langsung menceritakan betapa nakal adiknya – yang saat itu sedang tidur nyenyak. Besar kemungkinan sebetulnya ia cemburu dengan adiknya. Daripada langsung berteriak, “Kamu si tukang bohong! Bilang saja kamu yang melakukan!” lebih baik katakan saja apa mau Anda, “Tidak ada yang boleh mencoret dinding, kalau ada yang mau mencoret, kamu bisa tolong Mama untuk mengingatkan dia.”
Ia mendapat nilai ulangan jelek. Alih-alih mengaku, ia malah menyembunyikan kertasnya di tas dan baru Anda ketahui ketika mengecek apakah buku pelajaran besok sudah dibawa semua. Sepertinya ia takut dimarahi dan dihukum oleh Anda. Kalau Anda biarkan kebohongan ini terjadi terus, ia tidak akan belajar menerima dan mengatasi keadaannya. Jadi daripada langsung memarahi, “Kamu sengaja ya menyembunyikan nilai jelekmu, ketahuan tau! Makanya, belajar yang bener!” lebih baik Anda berikan penerimaan dan beritahu jalan keluarnya, “Sayang, Mama menemukan hasil ulangan kamu. Sepertinya kamu kesulitan ya mengerjakan ulangan ini. Kamu mau mama bantu belajar?”
Ketika ketahuan bohong lagi, jangan langsung katakan, “Tuh kan, apa Mama bilang, kamu sukanya bohong, kan.” Justru Anda perlu menunjukkan ia bisa bicara jujur, “Sayang, kamu ingat nggak, ketika kamu …. Saat itu kamu jujur, dan Mama bangga sekali sama kamu.”
Jika Anda tidak yakin apakah anak berbohong atau tidak, jangan langsung menuduhnya, “Kamu lagi bohong ya? Coba bilang yang jujur.” Katakan saja dengan sabar, “Mama agak bingung dengan ceritamu. Coba duduk sebelah Mama, Mama ingin dengar lagi bagaimana kejadiannya.” Jika dia konsisten, kemungkinan dia tidak bohong.Menurut Marilyn LaCourt, terapis keluarga, memergoki anak berbohong bukanlah cara yang paling efektif untuk menghentikan mereka dari kebohongan. Elizabeth Pantley, penulis buku Perfect Parenting and Kid Cooperation menambahkan, mengajar anak bicara jujur memang butuh banyak waktu dan kesabaran. Jadi, kalau besok atau minggu depan atau bulan depan Anda menemui situasi ini lagi, yah, begitulah anak-anak.
sumber : parenting indonesia
menyekolahkan anak special (DS)
Berbeda dengan anak autis yang selintas terlihat seperti anak normal, anak-anak down syndrome memang langsung bisa dilihat perbedaannya dengan anak normal. Wajah mereka bundar seperti bulan purnama (moon face), dengan mata sipit yang ujung-ujungnya tertarik ke atas. Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab kerusakan kromosom No.21 yang menjadi pemicu kelainan genetis penyebab down syndrome ini. Tapi diperkirakan ada beberapa faktor yang berperan, seperti usia ibu yang sudah cukup lanjut, terpapar ultrasound USG lebih dari 400 kali, pengaruh alkohol, obat-obatan Cina, dan lain-lain.
Anak-anak down syndrome punya tiga karakter khas, yaitu: secara intelektual rendah, secara mental terbelakang dan secara fisik mereka juga lemah. “Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin bagi kita untuk mengajari mereka biologi atau fisika. Yang penting mereka bisa bina diri (mandiri), bisa menulis dan membaca, dan memiliki beberapa keahlian lain seperti menggambar atau melukis.” kata Doni.
Di sekolah khusus down syndrome Matahariku yang dikelola oleh Yayasan Matahari Lestari, anak-anak down syndrome ini belajar untuk mandiri. Selain mengajarkan kemandirian dasar, sekolah ini juga mempunyai program jangka menengah school to work, yaitu program yang mempersiapkan anak-anak ini agar di masa pubertas mereka bisa mandiri dan melakukan pekerjaan dasar. “Di Belgia, misalnya, ada pabrik roti, toko pembuat kartu dan sebagainya yang menggunakan para penderita down syndrome sebagai pekerja. Program ini juga sangat berhasil di Singapura dan bisa menyalurkan anak-anak tersebut untuk bekerja di hotel, entah itu di bagian laundry, atau sebagai bell boy. Bahkan ada juga yang bisa menjadi pengarang meski dengan intelektualitas dan mentalitas yang terbelakang.
Selain sangat fokus pada pekerjaan yang mereka tekuni, anak-anak down syndrome ini juga punya keistimewaan sangat pintar meniru. Akibatnya, mereka harus diekspos pada lingkungan yang baik. Jika bersekolah sama-sama dengan anak autis atau anak-anak yang hiperaktif misalnya, mereka juga akan cenderung meniru sikap hiperaktif itu. Tapi, pada dasarnya anak down syndrome cukup ramah dan terbuka sehingga mereka juga bisa bersosialisasi, meski untuk itu tentunya mereka butuh dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya.sumber : parenting indonesia
menyekolahkan anak special (kondisi anak)
Bila setelah terdeteksi (autis) anak memperoleh penanganan baik dan mengalami kemajuan pesat, mungkin saja dia bisa disekolahkan di sekolah umum. Tapi, bila modal si anak dari awal sudah ’kurang’ atau kondisi autisnya memang lebih parah, tak bisa bicara misalnya, sebaiknya dia memang tak dimasukkan ke sekolah umum. Begitu pun bila anak autis ini sulit untuk berkonsentrasi di tempat ramai, mungkin sebaiknya orangtua tak memaksa si anak untuk masuk ke sekolah umum.
“Bisa-bisa dia malah benci belajar, hingga kemudian dia berkembang dengan konsep diri yang negatif karena selalu gagal, selalu berada di urutan paling bawah dan tertinggal dari teman-temannya,” kata Dyah Puspita, psikolog dan sekretaris Yayasan Autisme Indonesia (YAI) yang akrab dipanggil Ita ini. Anak boleh didukung untuk masuk ke sekolah umum kalau taraf autisnya terbilang ringan.
Menurut Vera Itabiliana, psikolog anak dan remaja, sebelum memutuskan apakah si anak perlu dimasukkan ke sekolah khusus atau tidak, orangtua perlu menguji anaknya dengan sejumlah pertanyaan, seperti: Bisakah si anak duduk diam di kelas selama jangka waktu yang lama, bisakah dia mengikuti aturan, bisakah dia memahami instruksi orang lain, atau bisakah dia mengendalikan emosinya ketika ada sesuatu yang tak berkenan terjadi? “Bila semua pertanyaan di atas jawabannya “tidak”, ya tidak ada positifnya memaksa anak masuk sekolah umum, lebih baik dia masuk sekolah khusus saja,” kata Vera.
Toh, hal itu terpulang lagi kepada orangtua. Sebagai psikolog yang juga terapis bagi anak-anak autis dan pengelola sekolah autis Mandiga, Ita tak pernah langsung menganjurkan agar seorang anak autis dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah khusus. “Semuanya terserah orangtua si anak, saya hanya memberitahu kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi pilihannya,” katanya.
Jadi, sah-sah saja, kok, kalau orangtua mau coba-coba dulu memasukkan anaknya ke sekolah umum. Siapa tahu si anak memang mampu. Tapi, bila si orangtua sejak awal memang menyadari si anak mungkin sulit menyesuaikan diri di sekolah biasa, sekolah khusus akan menjadi pelabuhan yang tepat. Ketika anak lain patuh saat disuruh latihan menulis misalnya, si autis mungkin akan ’membangkang’ dan asyik sendiri melakukan hal lain. Itulah yang mungkin akan menyulitkan mereka di sekolah umum.
Biasanya orangtua yang tak bisa memasukkan anaknya ke sekolah umum memang mengalami kebingungan. Tapi, menurut Ita, saat ini sudah cukup banyak pilihan. “Selain di SLB (Sekolah Luar Biasa), bisa juga dia dimasukkan ke sekolah reguler, di special wings dengan special needs, yang menerapkan kurikulum tersendiri, atau homeschooling saja. Orang belajar itu kan tidak harus selalu di sekolah umum. Kalau ada sekolah khusus, itu baik, tapi kalau nggak ada, kenapa nggak dibuat? Nggak punya tempat? Di garasi saja!” kata Ita.
Lalu bagaimana dengan guru-gurunya? Nggak ada, lho, guru yang siap pakai. Semua belajar lagi karena setiap anak berbeda karakternya. Tak ada satu anak autis pun yang sama persis dengan anak autis yang lain. Satu hal yang utama, guru itu harus punya niat untuk membaktikan diri terhadap tugasnya, karena urusan ilmu dan teknik bukanlah sesuatu yang tak bisa dipelajari.
Lingkungan kondusif
Di sekolah khusus, kebutuhan anak-anak ini memang lebih terpenuhi karena lingkungan fisik, pengajar maupun kurikulumnya sudah dirancang sedemikian rupa sehingga lebih cocok dengan kondisi anak. “Anak berada di lingkungan yang bisa memahami kondisi khusus mereka tanpa ada label ’anak aneh’ atau anak bandel. Maklum, anak yang hiperaktif sering dicap biang onar di sekolah-sekolah umum,” kata Vera. Akibatnya, kepercayaan diri anak lebih terjaga karena dia tidak merasa ’aneh’ sendiri atau tertinggal dari teman lain yang normal.
Itulah juga pertimbangan Aprilia, ibu dari Davina (4), ketika memilih menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak autis. “Saya lihat perkembangan anak juga akan lebih optimal karena terapi bisa dilakukan sambil sekolah. Guru-gurunya juga mempunyai keahlian sebagai terapis,” katanya.
Sebaliknya di sekolah umum, guru seringkali minim atau tak punya pengalaman sama sekali menangani anak-anak ’spesial’ ini. Bukan itu saja, guru juga sulit memberikan perhatian khusus kepada si anak autis karena rasio jumlah anak dan guru dalam satu kelas kurang ideal. Di sekolah umum, satu kelas biasanya berisi lebih dari 20 anak. Bandingkan dengan di sekolah khusus anak autis, di mana satu guru rata-rata menangani tiga anak. “Lebih dari itu, pasti sudah keteteran,” kata Ita.
Selain itu, menurut Ita, “Jangankan untuk anak autis, untuk anak normal pun kurikulum pendidikan nasional saat ini sudah lumayan berat.” Pantaslah kalau anak autis yang bersekolah di sekolah umum biasanya jadi lebih tertatih-tatih. Karena itu, menurut Ita, metode belajar di sekolah autis Mandiga dibatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat aplikatif. “Mereka diajari membaca, menulis, berhitung. Tapi yang lain-lain, kira-kira terpakai atau tidak? Kalau tidak, ya lebih baik tidak usah,” katanya.
Cara mengajar pun tidak bisa selalu sama untuk setiap anak. Untuk mengajarkan sebuah kosa kata, misalnya, guru anak autis tak jarang harus putar otak untuk bisa menarik perhatian mereka. Tak jarang mereka harus memulainya dari sesuatu yang menarik minat anak. Contoh bila si anak suka oli, maka akan lebih efektif kalau dia mulai belajar dari kata “oli”, sementara bila dia suka mobil, ya akan lebih efektif untuk mulai mengajari dia dari kata “mobil”.
Karena setiap penyandang autis berbeda dalam mengolah dan merespon informasi, kurikulum dalam proses belajar-mengajar memang harus disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Pola pendidikan yang tepat itu juga harus diajarkan oleh guru-guru yang memang punya dedikasi untuk mendidik dan mau mencintai anak-anak ’spesial’ itu. Kalau tidak, terbayang kan rasanya menghadapi anak-anak yang bisa menangis terus selama berjam-jam tanpa henti, atau marah-marah dan malah kadang mengamuk tanpa alasan.
Saat ini, perhatian pemerintah terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus (special needs) memang masih sangat minim. Padahal, jumlah anak-anak dengan berbagai kekurangan ini terus bertambah. Saat ini saja, menurut Yayasan Autisme Indonesia, meski belum ada penelitian khusus, diperkirakan dari 160 kelahiran satu diantaranya adalah anak autis. Wah, kenapa bisa sebesar itu? “Memang autis itu biasanya dipengaruhi oleh faktor genetis, tapi pemicunya bisa dari faktor eksternal seperti gaya hidup, vaksin, makanan, pengaruh zat-zat kimia, dan polusi yang makin parah," kata Ita. “Bayangkan kalau jumlah mereka terus bertambah dan tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Betapa pun mereka itu kan juga generasi penerus,” tambahnya.
Rasa prihatin Ita itu mungkin ungkapan hati seorang ibu yang anaknya juga penyandang autis. Tapi, harapan akan perhatian yang lebih besar terhadap anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak autis ini mungkin juga harapan kita semua. Harapan ini bahkan juga pernah dilontarkan Torey Hayden, psikolog dan guru anak-anak berkebutuhan khusus asal Inggris ketika bertandang ke Indonesia sekitar dua tahun lalu. Menurut penulis buku laris Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil itu, anak-anak ini perlu bersekolah di tempat yang tepat karena sebagian dari mereka punya potensi intelektual yang tak kalah dibanding anak normal. Pendidikan yang baik dan sesuai dengan kebutuhan mereka akan membuat anak-anak ini bisa hidup wajar, mandiri, dan tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga dan lingkungan.
sumber : parenting indonesia
