Sabtu, 22 Mei 2010

Interaksi dengan Anak Buta Tuli

Sejak bayi, anak sudah mulai berusaha berkomunikasi. Orangtua harus belajar menafsirkan dan memberi tanggapan terhadap komunikasi yang dilakukan anak dalam upaya membentuk ikatan batin yang akan menjadi dasar perkembangan selanjutnya. Anak juga dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai jenis interaksi yang mereka lakukan dengan orangtuanya. Hubungan yang dilandasi kepercayaan dan perhatian akan menjadi dasar bagi anak untuk menjelajahi dan menemukan suatu dunia yang senantiasa berkembang.

Namun, bila anak tersebut adalah penyandang buta tuli, orangtuanya mungkin akan kesulitan memahami apa yang ingin disampaikan anaknya. Orangtua pun mungkin tidak yakin dengan caranya berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Deborah Gleasson, konsultan dan guru bidang Ketunanetraan dan Ketunarunguan dari Perkins School for the Blind Preschool Service, Utah, Amerika memberikan saran-saran praktis untuk memberikan isyarat-isyarat sensorik yang konsisten kepada anak buta tuli agar mereka bisa terdorong untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi dan komunikasi.

Masing-masing anak berbeda
Menurut Deborah, yang juga menjadi pelatih nasional untuk VIISA Project di Utah State University, Amerika Serikat, indera penglihatan dan indera pendengaran sering merujuk pada “indera-indera jarak”. Indera tersebut menghubungkan anak dengan dunia yang terentang di luar jangkauan ruang tubuhnya. “Anak-anak yang dapat melihat dan mendengar, mempelajari bahasa dan konsep-konsep penting tanpa melalui pengajaran yang terencana dengan khusus,” ujarnya.

Anak-anak dengan indera normal bisa belajar di tengah-tengah orang yang menggunakan bahasa, dan memiliki akses terhadap lingkungan yang aman, menarik, dan mengundang eksplorasi. Indera pendengaran dan indera pengliharan membantu anak mengorganisasikan informasi dari lingkungannya. “Namun anak penyandang buta tuli (deaf blind) tidak memiliki kesempatan untuk ‘belajar secara insidental’. Informasi yang mereka dapatkan melalui kontak dengan orang dan lingkungan, sering terpecah-pecah dan terdistorsi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa anak-anak normal melakukan antisipasi terhadap kejadian sehari-hari melalui penglihatan dan suara yang mereka tangkap. Mereka juga dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Sedangkan anak penyandang buta tuli kehilangan isyarat-isyarat tersebut karena keterbatasan penglihatan dan pendengarannya. Karena keterbatasan itu, mereka mungkin menganggap dunia sebagai ‘tidak dapat diprediksi, membingungkan, dan bahkan menakutkan’.

“Anak-anak ini memerlukan bantuan orang lain untuk memahami dunia luar. Banyak hal yang terjadi yang mungkin menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi mereka,” tutur Deborah. Mereka mungkin tidak memahami atau tidak mengantisipasi apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin juga mereka mencoba berkomunikasi, namun isyarat yang digunakannya sedemikian tidak kentara sehingga sulit bagi orang lain untuk memahaminya. “Mereka juga mungkin menganggap bahwa memahami upaya keras orang tuanya untuk berkomunikasi tidaklah mudah,” tambahnya.

Memperat interaksi dan komunikasi
Menurut Deborah, ada empat pemikiran dasar untuk mengembangkan komunikasi dini dengan anak buta dan tuli. Yaitu mengembangkan suatu hubungan yang erat dan saling percaya dengan anak, menggunakan kebiasaan sehari-hari yang konsisten di mana anak terlibat secara penuh, memberikan isyarat atau penanda kepada anak sehingga ia dapat belajar mengantisipasi apa yang akan terjadi, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk memiliki kendali atas lingkungannya.

Salah satu cara yang paling penting yang dapat dilakukan orangtua untuk mengembangkan rasa atau ikatan batin dan menimbulkan rasa aman adalah dengan memeluk anak. Dengan begitu, anak akan belajar cara orangtuanya bergerak, dan mereka akan merasa terlindungi saat harus menghadapi berbagai peristiwa sehari-hari bersama orangtuanya. Setelah itu, mereka akan mulai mempelajari dunia yang lebih luas yang meliputi orang-orang yang memberi perhatian pada dirinya, berbagai gerakan yang menarik, sesuatu untuk disentuh, dirasakan, dan dicium, dan belajar membedakan suara dan berusaha memahami berbagai hal yang kasat mata.

Beberapa cara di bawah ini bisa membantu orangtua anak penyandang buta tuli untuk membangun interaksi dan komunikasi yang lebih erat.

  • Selalu sapa anak Anda dengan sapaan khusus, seperti menyentuh dada atau pundaknya, untuk memberi tahu bahwa seseorang berada di sana. Setelah itu, biarkan ia tahu orang itu dengan ‘tanda nama’ khusus milik Anda (dengan membantunya merasakan dagu ayah yang kasar, atau rambut ibu yang lembut, atau benda apa pun yang identik dengan seseorang tersebut). Ingat juga untuk mengatakan ‘selamat tinggal’ sebelum Anda meninggalkannya, dengan cara-cara yang khusus pula.
  • Ciptakan rutinitas atau kebiasaan yang dapat diprediksi dengan awal dan akhir yang jelas. Misalnya, makan, berpakaian, manda dan bermain. Pikirkan tentang bagaimana Anda dapat membuat anak Anda tahu tentang apa yang akan terjadi, kapan awalnya, dan kapan akhirnya.
  • Libatkan anak Anda dalam keseluruhan kegiatan. Ingatlah bahwa anak penyandang buta tuli harus secara fisik berpartisipasi dalam seluruh urutan suatu kegiatan dalam upaya mengumpulkan informasi yang sama, yang dikumpulkan anak lainnya hanya dengan melihat atau mendengar.
  • Berikan kesempatan untuk membuat pilihan. Misalnya, ingin bermain bola atau tali, atau ingin makan biskuit atau jus. Caranya adalah dengan membantunya menyentuh kedua benda yang dimaksud dan biarkan ia mengambil benda yang dipilihnya.
  • Ingat untuk memberikan kesempatan ‘berhenti sejenak’. Beberapa anak butuh waktu sedikit lebih lama untuk memproses dan merespon informasi yang mereka terima. Hargai kecepatannya dan waktu yang dibutuhkannya agar mereka tak berhenti mencoba.
  • Cermati isyarat. Tetaplah waspada terhadap isyarat yang mungkin diberikan anak Anda bahwa ia siap berkomunikasi dan berpartisipasi dalam sebuah kegiatan atau berhenti melakukannya, misalnya mulai rewel, menangis, menjauhkan mukanya, dan lain-lainnya.
  • Ciptakan permainan Anda sendiri. Kebersamaan yang Anda bangun bersama anak dalam menciptakan permainan sendiri akan membantunya belajar untuk lebih ekspresif.
  • Jelajahi dunia bersama (‘tangan di bawah tangan’). Sangat penting bagi anggota keluarga untuk mengingat bahwa anak penyandang buta tuli sering tidak menyadari bahwa mereka melihat objek yang sama dalam kegiatan yang sama. Berbagi pengalaman yang sama merupakan faktor penting dalam membangun hubungan dan self esteem.
  • Tangan seorang anak penyandang buta tuli menjadi telinga, mata dan suaranya. Pahamilah isyarat yang disampaikan anak Anda melalui gerakan-gerakan tangannya.
  • Bergabunglah dengan anak Anda dalam permainannya. Bergabunglah dengan anak Anda saat bermain dan bantulah mengeksplorasi benda atau lingkungan sekitarnya. Dengan cara ini, Anda sudah memberikan pesan kepadanya bahwa Anda bergabung dengannya, dan tidak semata-mata memanipulasinya.
  • Dorong untuk menggunakan semua informasi sensorik. Bantulah anak Anda yang menyandang buta tuli untuk belajar menggunakan penglihatan dan pendengarannya untuk kegiatan-kegiatan yang fungsional dan untuk menafsirkan pandangan dan suara yang terbatas adanya itu.
  1. Memodifikasi lingkungan anak. Ciptakan ruangan yang jelas bagi anak Anda untuk bermain dan bereksplorasi, berikan umpan balik dan kontras visual yang optimal, termasuk mainan dan benda dengan karakteristik sensoris yang akan dihargainya.
  2. Pantau tingkat stimulasinya. Pekalah terhadap jenis dan jumlah stimulasi sensorik yang dapat ditanggapi oleh anak Anda pada rentang waktu tertentu dan sesuaikan kegiatan dan materinya. Pastikan untuk memantau atau menghapuskan suara lain dan efek visual yang membingungkan.
  3. Gunakan isyarat yang sesuai. Yaitu isyarat yang sederhana, konsisten dan terhormat yang akan dipahami oleh anak Anda.
  4. Paparkan dan biasakan anak Anda terhadap bahasa. Anak penyandang buta tuli perlu dilibatkan dalam suatu lingkungan dengan berbagai variasi bentuk komunikasi yang kaya, yang meliputi kata-kata, bahasa tubuh, isyarat atau tanda, isyarat sentuhan, benda, gerakan, kontekstual, auditoris dan atau visual.
  5. Bantulah anak Anda berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Anda dapat menjadi fasilitator ketika anak Anda mulai berinteraksi dengan anak-anak lainnya. Bantu anak lain untuk mempelajari cara efektif untuk merespon dan memahami satu sama lain.
sumber : inspired kids (Sari K)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar